Sudah barang tentu, tanggal berwarna merah akhir pekan ini masuk dalam catatan libur panjang pembaca. Jauh-jauh hari, berbagai rencana sudah disiapkan. Bagi yang merayakan Hari Raya Imlek tak perlu bingung soal skedul. Bagi yang tak merayakan, barangkali alternatif “kembali ke masa lalu” bisa dipertimbangkan.

Bayangkan, suasana rumah sakit di abad ke-19 yang kini sudah berubah fungsi—dengan bangunan yang masih tegak. Atau, bayangkan hidup di Kastil Batavia yang kini sudah tak ada bekasnya, atau bayangkan berada di balik tembok Batavia yang kini nyaris bersisa hanya di Museum Bahari.

Jalan-jalan ke kawasan Kota Tua Jakarta mengenal tempat-tempat yang selama ini barangkali hanya terdengar samar-samar dari radio, televisi, perbincangan atau terbaca selintas entah di koran, majalah, seleabaran, internet, dan lainnya, makin beken. Setidaknya bagi mereka yang tinggal di Jakarta, atau malah lahir dan besar di Jakarta, tetapi tak mengenal siapa dan apa itu Jakarta.

Bisa jadi, acara yang satu ini ikut membangkitkan rasa penasaran pembaca. Komunitas Sahabat Museum memulai tahun 2009 dengan “Plesiran Tempo Doeloe: Kota Tua Jakarta” pada Minggu 25 Januari.

Dimulai minggu pagi sekitar pukul 07.00. Tentu saja, seperti wisata di kawasan ini yang sudah dikenal sejak sekitar 2002, jalan-jalan ini sejujurnya memang berjalan kaki. Jalan kaki sambil mendengar sejarah bangunan tua, jembatan, nama jalan, dan berbagai hal lain yang mengundang keingintahuan.

Apalagi, menurut Ketua SM alias Sahabat Museum, Adep Purnama, jalan-jalan kali ini agak berbeda karena menggunakan technique super-impose, yaitu menempatkan dua gambar peta, masa lampau dan masa kini. Alhasil, peserta bisa menemukan lokasi persis suatu gedung berdiri di masa lalu.

“Nantinya, kita bisa melihat perbedaan yang mencolok antara masa lalu dan sekarang. Sebelumnya, kita akan saksikan slide show peta tempo doeloe dan peta sekarang sambil membahas perbedaannya,” papar Adep, begitu ia biasa disapa.

Perjalanan menengok masa lalu ini akan mengambil waktu sekitar empat jam. Rute awal jalan-jalan ini dimulai di Museum Bank Mandiri, Jakarta Kota, kemudian melewati Jalan Pintu Besar Utara berlanjut ke lebih dari 25 titik bersejarah. Antara lain lukisan berlatar Kasteel Batavia, sudut Diamant; rumah jagal hewan; kampung China yang sudah digusur, Amsterdampoort, dan lain-lain.

Nama-nama seperti Lilik Suratmanto, Alwi Shahab, Scott Merrillees penulis buku Batavia In 19th Century akan memandu wisata ini.

Untuk ikut acara ini, calon peserta hanya ditarik bayaran sebesar Rp 50.000, ini sudah dengan makan siang. Mumpung ada waktu, monggo daftar segera ke adep@cbn.net.id. Selamat melancong ke abad lampau….sumber kompas.com