Mencicipi Masakan Betawi


Sekali lagi, Jalan KH Agus Salim merupakan surga bagi pecinta makanan. Sepanjang jalan banyak terdapat tempat makan khas berbagai daerah. Sebut saja daerah Cirebon, Makassar, Jogyakarta, sampai Batak.

Hanya saja, tidak lengkap rasanya bila belum mencicipi masakan Betawi. Seperti diketahui, Betawi merupakan suku bangsa yang mendiami wilayah Jakarta. Maka dari itu, rasanya aneh jika berada di Jakarta, namun tidak mencicipi masakan khas daerahnya.

Salah satu tempat makan yang menawarkan masakan khas Betawi ialah Warung Soto Sanusi. Tempat makan ini terletak di Jalan Kampung Dalem 5, masih merupakan sekitar kawasan Jalan KH Agus Salim, Jakarta Pusat. Karena bukan sebuah restoran, maka tempat makan ini bisa dibilang diatur seadanya. Sebuah kipas angin menjadi teman bersantap pengunjung. Walhasil, rasa gerah cukup menghinggap.

Ukuran ruangan warung ini tidak terlalu luas, hanya bisa menampung sekitar 25 orang . Namun kebersihannya cukup diperhatikan. Dengan jam buka mulai dari pukul 6 pagi sampai 3 sore, sekitar 4 orang pelayan melayani. Itu pun hanya hari Senin sampai Jumat, karena di hari Sabtu dan Minggu meliburkan diri. Rata-rata harga makanannya sekitar 10 ribu rupiah.

Bicara pelayan, di warung ini sebagian besar dari mereka mampu meracik menu yang tersedia, seperti soto atau sop kaki kambing, babat, dan ayam. Kemampuan pelayan meracik bumbu dan potongan daging sapi, merupakan hasil pengajaran pemilik warung ini, yaitu Pak Sanusi.

Awalnya, Pak Sanusi membuka sendiri warung ini sekitar 12 tahun lalu. Kemudian, setelah usahanya berkembang, ia pun mencari pelayan yang akan membantu usahanya. Kini, Pak Sanusi mempercayakan pelayanan kepada para pelayannya. Menu yang patut dicoba ialah soto paru sapi. Sebelumnya, jangan salah meminta menu. Karena di warung ini, disediakan 2 panci besar berbeda. Panci pertama berisi kuah soto, yang terbuat dari campuran rebusan air dan santan. Sedangkan, panci kedua berisi rebusan air bagi kuah sup.

Kembali ke menu. Soto paru sapi dibuat dari potongan paru sapi yang telah digoreng. Kemudian, dicampur dengan kuah soto. Jika ingin memilih, maka pengunjung boleh minta ditambahi paru tersebut dengan kuah sup. Rasa soto paru sapi itu cukup manis. Jika ditambah dengan sambal cabe, maka rasa pedas menjalar ke seluruh tubuh. Agar lebih kenyang, soto tersebut patut dinikmati bersama sepiring nasi putih. Dalam menyiapkan bahan baku utama masakannya, Pak Sanusi dan para pelayannya setiap hari menyediakan sekitar 7 kilogram daging sapi. Potongan daging tersebut terdiri dari babat, paru, dan bagian kaki.

Bersantap masakan yang tersedia di warung ini rasanya memang enak. Tetapi, sebaiknya jangan coba memikirkan bagaimana suasananya yang membuat gerah dan ruangan sempit. Kalau iya, bersiaplah rasa lapar pergi bagai angin. (megi/psi)

nasi soto paru goreng